Senin, 28 Mei 2012

Bahan Berbahaya dan Beracun

    LC dan LD Bahan Kimia ( Hubungan dan Ambang Batas )
Sifat spesifik dan efek suatu paparan secara bersama-sama akan membentuk suatu hubungan yang lazim disebut sebagai hubungan dosis-respon. Hubungan dosis-respon tersebut merupakan konsep dasar dari toksikologi untuk mempelajari bahan toksik. Penggunaan hubungan dosis-respon dalam toksikologi harus memperhatikan beberapa asumsidasar. Asumsi dasar tersebut adalah: Respon bergantung pada cara masuk bahan dan respon berhubungan dengan dosis. Adanya molekul atau reseptor pada tempat bersama bahan kimia berinteraksi dan menghasilkan suatu respon. Respon yang dihasilkan dan tingkat respon berhubungan dengan kadar agen pada daerah yang reaktif. Kadar pada tempat tersebut berhubungan dengan dosis yang masuk. Dari asumsi tersebut dapat digambarkan suatu grafik atau kurva hubungan dosis-respon yang memberikan asumsi:
(1)   respon merupakan fungsi kadar pada tempat tersebut
(2)   kadar pada tempat tersebut merupakan fungsi dari dosis
(3)   dosis dan respon merupakan hubungan kausalPada kurva dosis-respon nampak informasi beberapa hubungan antara jumlah zat kimiasebagai dosis, organisme yang mendapat perlakuan dan setiap efek yang disebabkan oleh dosistersebut.
a. Hubungan Dosis-Respon (Dose Response Relationship)
Penyelidikan hubungan antara dosis atau konsentrasi dan kerja suatu bahan kimia dapat dilakukan dengan dua cara:
1.  menguji frekuensi efek yang timbul pada satu kelompok objek percobaan dengan mengubah-ubah dosis (hubungan dosis-reaksi = dose-respons relationship)
2.  mengubah-ubah dosis, kemudian mengukur intensitas kerja pada satu objek percobaan (hubungandosis-kerja=dose-effect relationship).
Pada cara yang pertama, jumlah objek percobaan yang menunjukkan efek tertentu akan bertambah sampai maksimum, sedangkan pada cara yang kedua, intensitas efek yang bertambah. Perilaku efek suatu bahan kimia digambarkan sebagai peningkatan dosis akan meningkatkan efek sampai efek maksimal tercapai.
Hubungan dosis-respon biasanya berciri kuantitatif dan hal tersebut yang membedakan dengan paparan di alam dimana kita hanya mendapatkan kemungkinan perkiraan dosis. Suatu respon dari adanya paparan dapat berupa respon-respon yang mematikan (lethal response) dan respon yang tidak mematikan (non-lethal response). Bahan kimia dengan tingkat toksisitas rendah memerluikan dosis besar untuk menghasilkan efek keracunan dan bahankimia yang sangat toksik biasanya memerlukan dosis kecil untuk menghasilkan efek keracunan.
Salah satu cara untuk lebih memudahkan pengertian hubungan dosis respon adalah menggunakan LD50. Istilah LD50 pertama kali diperkenalkan sebagai indeks oleh Trevan pada tahun1927. Pengertian LD50 secara statistik merupakan dosis tunggal derivat suatu bahan tertentu pada ujitoksisitas yang pada kondisi tertentu pula dapat menyebabkan kematian 50% dari populasi uji (hewan percobaan). Sebagai contoh: ditemukan suatu senyawa kimia baru dan untuk mengetahui efek toksiknya digunakan LD50. Jumlah hewan percobaan paling sedikit 10 ekor untuk tiap dosis dengan rentang.
Suatu variasi dari LD50 adalah LC50 yaitu konsentrasi bahan yang menyebabkan kematian 50% organisme yang terpapar. Parameter ini sering digunakan jika suatu organisme dipaparkan terhadap konsentrasi bahan tertentu dalam air atau udara yang dosisnya tidak diketahui. Dalam hal ini waktupemaparan dan konsentrasi harus dinyatakan dengan jelas.
b.  Nilai Ambang Batas (Nab) Bahan Toksik
Penetapan secara akurat nilai ambang batas dengan tanpa memberikan suatu efek, tergantung pada beberapa faktor, yaitu: Ukuran sampel dan replikasi (pengulangan) pengambilan sampel. Jumlah endpoint (titik akhir) yang diamati. Jumlah dosis atau konsentrasi bahan toksik. Kemampuan untuk mengukur endpoint. Keragaman intrinsik dari endpoint dalam populasi binantang percobaan. Metode statistik yang digunakan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Makasih Udah Kunjungi Blog Saya :)
"Smoga Postting ini Bermanfaat"